Oleh : Oky Widyanarko
Pustakawan Universitas Surabaya
ABSTRAK Positioning
merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilakukan oleh
perusahaan-perusahaan modern saat ini. Perpustakaan yang awalnya
mempunyai konsep sebagai institusi nirlaba mulai mengadopsi strategi
ini untuk berkembang menjadi perpustakaan modern yang inovatif dan
berusaha kreatif menjual produk jasanya. Positioning sendiri tidak
terlepas dari hal-hal yang bersifat regulasi, Membangun citra atau
brand image pasar dan melakukan repositioning dan strategi diferensiasi
jika dikemudain hari produk mereka masuk ke dalam hukum "product Life
Cycle" Strategi
pemasaran sangat penting dalam menentukan perjalanan ke depan sebuah
perusahaan agar tetap eksis dalam kancah persaingan usaha. Strategi
pemasaran modern yang dikembangkan Hermawan Kertajaya dengan konsep
sembilan elemen pemasarannya atau milik Michael Porter dengan model "
The Five Forces" banyak diadopsi dan diadaptasikan di banyak perusahaan
kelas dunia, misalnya Intel, Lux, Amazon dan The Body Shop. Salah satu
unsur terpenting dari strategi pemasaran itu adalah "positioning".
Apakan strategi positioning juga dapat diadaptasikan kepada perusahaan
jasa. Jawabannya adalah pasti dapat,termasuk di dalamnya sebuah
institusi perpustakaan yang dulu selalu dikenal sebagai organisasi
nirlaba. Perpustakaan modern saat ini tentu telah banyak merubah
strategi organisasinya agar tetap eksis dalam kompetisi dengan
melakukan "reposition" visi dan misi organisasi termasuk menjual produk
layanan informasi kepada segmen pasar yang telah mereka tentukan
sendiri di masa awal ketika berdiri. Perpustakaan Perguruan tinggi
mempunyai segmen pasar yaitu kelompok mahasiswa dan pengajar,
perpustakaan umum atau daerah mempunyai segmen pasar masyarakat umum
demikian pula dengan perpustakaan khusus yang menjual produk jasanya
kepada kalangan tertentu atau khusus. "POSITIONING" APA DAN BAGAIMANA Dalam
definisi tradisional, Positioning sering disebut sebagai strategi untuk
memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang kita
tawarkan (Kartajaya, Hermawan : 2004 :11). Hermawan Kertajaya dalam
bukunya " Hermawan Kertajaya on Positioning mempunyai definisi sendiri.
Positioning didefinisikan sebagai the strategy to lead your customer
credible, yaitu upaya mengarahkan pelanggan anda secara kredibel atau
dengan kata lain upaya untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan
pelanggan. Semakin kredibel anda di mata pelanggan, semakin kukuh pula
positioning anda. PERAN REGULASI DALAM MENENTUKAN "POSITIONING" PERPUSTAKAAN Peran
Regulasi dapat menentukan positioning sebuah perpustakaan, sebagai
contoh dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1990 tentang
Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam, maka Perpustakaan
Nasional dan jaringan dibawahnya merupakan satu-satunya organisasi yang
mempunyai otoritas dalam pengumpulan koleksi-koleksi karya cetak dan
karya rekam dari seluruh penerbit di Indonesia. Positioning
perpustakaan Nasional sangat kuat tentunya dengan brand image
perpustakaan terlengkap koleksinya di Indonesia, sehingga
pemustaka/pengguna perpustakaan otomastis akan tergantung kepada
perpustakaan Nasional. Contoh lain adalah Perpustakaan Umum DKI dengan
SKGubernur No. 499 tahun 1996. Positioning Perpusda DKI akan semakin
kuat karena dengan regulasi tersebut masing-masing unit atau satuan
kerja di lingkungan Pemprov DKI wajib memberikan sembilan karya cetak
untuk dikoleksi Perpusda DKI. Perpusda DKI akan mempunyai brand image
di masyarakat sebagai perpustakaan dengan koleksi lokal DKI Jakarta
terlengkap di Indonesia tentunya. Pada beberapa Perpustakaan Perguruan
Tinggi, Statuta Universitas merupakan senjata ampuh untuk memposisikan
Perpustakaan sebagai " center of learning". MOTTO PERPUSTAKAAN DAN POSITIONING
Motto
dapat dijadikan sebagai alat atau senjata untuk mengarahkan masyarakat
agar mengetahui Positioning sebuah perusahaan dalam menjual produk
barang atau jasanya. Sebagai contoh Coca Cola yang memposisikan dirinya
sebagai " The Real Thing" alias Cola yang Orisinil dan Klasik. Dengan
semboyan atau motto tersebut Coca Cola berusaha mengarahkan atau
memberi citra kepada masyarakat bahwa selain Coca Cola minuman Cola
lainnya adalah pasti palsu. Sebaliknya sebagai tandingan atau
competitor, Pepsi berusaha membangun citra dirinya dengan sebutan " Generation Next" dan menganggap Coca Cola sebagai terlalu
tua. Jika diibaratkan sebagai perusahaan yang menjual jasa maka
perpustakaan dalam menentukan posisinya dapat memberikan semboyan atau
motto yang mudah dikenal oleh masyarakat sehingga brand image terhadap
produk dan perpustakaan sebagai produsennya akan diingat selalu oleh
pengguna perpustakaan. Di beberapa perpustakaan Amerika Serikat telah
banyak yang mengadopsi positioning ini, diantaranya Biomedical Library
University of California dengan ""Connect, reflect, research, discover"
, Royal Hospital Central library dengan motto "Quality
has to be Seen to be Believed, Perpustakaan Universitas Minnesota di AS
yang dikenal sebagai " Human Right Of Library". Di Indonesia ada
beberapa perpustakaan yang telah mengembangkan strategi positioning ini
seperti perpustakaan Petra Surabaya dengan konsep "Perpustakaan Tanpa Dinding (Library Without Walls)" ketika memulai terbentuknya jaringan PetraNet dengan menyediakan layanan akses internet bagi penggunanya dan mulai mengembangkan layanan online
pada tahun 1996, Perpustakaan Universitas Surabaya dengan "One Stop
Information Service Provider", Moto "melayani dengan cinta" milik
perpustakaan ITS. BRAND IMAGE DALAM PEMASARAN LAYANAN PERPUSTAKAAN Menentukan " Brand Image" yang akan dijual oleh perpustakaan sangatlah penting. Beberapa
marketer dalam dunia marketing membedakan aspek psikologi merk dengan
aspek pengalaman. Aspek pengalaman merupakan gabungan seluruh point
pengalaman berinteraksi dengan merk, atau sering disebut brand experience. Aspek psikologis, sering direferensikan sebagai brand image,
adalah citra yang dibangun dalam alam bawah sadar konsumen melalui
informasi dan ekspektasi yang diharapkan melalui produk atau jasa.
Pendekatan yang menyeluruh dalam membangun merk meliputi struktur merk,
bisnis dan manusia yang terlibat dalam produk. Sebagai Contoh
Perpustakaan Umum DKI Jakarta tentu mempunyai produk local content
mengenai Jakarta baik buku tentang sejarah Jakarta, Peraturan daerah,
statistik kota Jakarta dan sebagainya, sehingga produk atau koleksi
yang dimiliki oleh perpusda DKI Jakarta dapat dijadikan brand image bagi perpustakaan tersebut. Dengan brand image tersebut, Perpusda DKI Jakarta mencoba membangun citra dan mengarahkan masyarakat sehingga
mereka para pemustaka atau pengguna perpustakaan mengerti bahwa hanya
Perpusda DKI Jakarta sajalah yang memiliki koleksi terlengkap mengenai
seluk beluk kota Jakarta. Strategi tersebut juga dikembangkan oleh
beberapa perpustakaan daerah di era 80-an dengan produk layanan
terkenalnya mobil perpustakaan keliling, PDII-LIPI dengan produk
kemasan informasi digitalnya, Perpustakaan Khusus lainnya seperti
Perpustakaan Bung Hatta, Japan Foundation ,British Council, Produk
Spectra dari Perpustakaan Petra, KCM dari Kompas, Sampoerna Corner
milik perpustakaan ITS, Amcor milik perpustakaan Universitas Airlangga
Surabaya.
INOVATIF DAN KREATIF Agar
positioning tetap kuat maka perpustakaan yang diibaratka sebagai
perusahaan jasa yang menyediakan informasi harus tetap inovati dan kreatif
dalam membangun brand image kepada pengguna perpustakaan. Positioning
akan berubah jika nantinya ada kompetitor yang lebih baik dalam
menawarkan jasa dan berhasil membangun brand image yang ditawarkan.
Tapi hukum alam marketing tentunta akan terus berjalan yaitu product
life cycle dimana produk yang telah menjadi unggulan dan merupakan the
best brand image bagi perpustakaan akan ada masa surutnya, maka
kebijaksanaan internal Perpustakaan harus segera melakukan
repositioning dengan melakukan diferensiasi produk jasa. Pustakawan dan
SDM Perpustakaan yang inovatif dan kreatiflah sebagai kunci, maka benar
kata Jact Trout seorang pakar marketing yaitu diferentiatie or Die ,
berbeda atau mati. PENUTUP Dalam
menentukan positioning, sebuah perusahaan tidak terlepas dari hal-hal
yang menguntungkan maupun merugikan bagi dirinya. Regulasi adalah salah
satu penyebabnya. Ketika zaman orde baru sebelum diberlakukannya UU
anti Monopoli maka posisi perusahaan sekelas Telkom dan Pertamina
sangant kuat. Tanpa harus bermarketingpun mereka akan tetap dapat
memeras pundi-pundi emas. Sebaliknya ketika diberlakukan UU anti
monopoli maka perusahaan-perusahaan tersebut segera melakukan
repositioning dan differensiasi. Perpustakaan bisa mengambil pelajaran
dari strategi marketing modern. Regulasi dalam menetukan keberadaan
perpustakaan dapat menjadi modal awal untuk menentukan segmen pasar
yang dituju dan menentukan brand image kepada calon user atau pengguna
sebelum produk jasa yang akan ditawarkan di pasarkan. Perpustakaan
jangan terlalu takut mengambil resiko dengan berpikir apakah produk
yang ditawarkan akan laku atau tidak karena yang menilai sebuah produk
adalah user atau pengguna dengan berbagai persepsi yang berkembang di
masyarakat. Perpustakaan tentunya hanya berusaha melakukan positioning
agar brand imagenya tetap kuat di mata user atau pengguna perpustakaan DAFTAR PUSTAKA - Biomedical Library, Dramatically Renovated, Plans Colorful Dedication, http://www.universityofcalifornia.edu/news/article/8471, akses 24 Nopember 2007
- Central Medical Library Royal Hospital,http://www.rhcml.com/about.asp, diakses 24 Nopember 2007
- Dengan
Diberlakukannya Otonomi Daerah, UU No. 4/1990 tentang Wajib Serah
Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Perlu Direvisi, http://www.pnri.go.id/official_v2005.5/activities/news/index.asp?box=detail&id=200671215117&from_box=list&page=15&search_keyword=, akses tanggal 23 Nopember 2007
- Djatin,
Jusni dan Sri Hartinah, Pengemasan dan Pemasaran Informasi : Pengalaman
PDII-LIPI, www.consal.org.sg/webupload/forum/attachments/2277.doc,
akses 29 Nopember 2007
- KARTAJAYA, Hermawan, Hermawan Kertajaya On Positioning, Bandung : Mizan, 2006
- KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.1, Jakarta : Prehallindo, 1997
- KOTLER, Philip, Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi, dan Kontrol, 9th.ed. Vol.2, Jakarta : Prehallindo, 1997
- Perpustakaan ITS:Melayani Dengan Cinta, http://www.its.ac.id/berita.php?nomer=2715, akses 29 Nopember 2007
- RUHIMAT, Perpustakaan Perlu Wajah Baru, http://www.jplh.or.id/elnv4/topik/artikel/perpustakaan, akses tanggal 23 Nopember 2007
- TROUT, Jack, Big Brands Big Trouble : Pelajaran Berharga dari Merk-Merk Ternama, Jakarta : Elangga, 2002
- TROUT, Jack, Yang Terbaru tentang Strategi Bisnis Nomor Satu Dunia, Jakarta ; Gramedia Pustaka Utama, 1997
*) Oky Widyanarko,SE Pustakawan Universitas Surabaya, Email : oky@ubaya.ac.id |