Mengelola Stres di Tempat Kerja : Renungan buat Pustakawan *) Oleh : Hari Subagijo ** Oky Widyanarko *** Stres
di tempat kerja bukan suatu fenomena yang aneh.Stres dapat menghinggapi
siapa saja tidak terkecuali seorang pustakawan. Rutinitas pekerjaan dan
beban kerja yang tinggi di perpustakaan dapat menjadi penyebabnya.
Bahkan sebuah perusahaan asuransi bernama Northwestern National Life
Insurance Co. mengatakan “stress di tempat kerja benar-benar mewabah”. Sebenarnya stres itu apa ?.
DEFINISI STRES National Safety Council
mendefinisikan stres sebagai ketidakmampuan mengatasi ancaman yang
dihadapi oleh mental, fisik, emosional dan spiritual manusia, yang pada
suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut. Bila
stres mengancam fisik manusia maka gejala yang muncul dengan cepat
dapat berupa respon terhadap denyut jantung meningkat, tekanan darah
meningkat, ketegangan otot meningkat, produksi keringat meningkat dan
aktivitas metabolic meningkat. Referensi lain mengartikan stres sebagai
kelebihan tuntutan atas kemampuan individu dalam memenuhi tuntutan
tersebut. Penyebab Pustakawan Stres Bila melihat hasil riset yang dilakukan oleh Thomas Mann pada Oktober 2005 menunjukkan bahwa hampir 89% student di Amerika Serikat masih mengandalkan sumber informasi dalam bentuk cetak seperti buku dan journal yang ada di perpustakaan. Merekapun
masih tergantung bantuan pustakawan dalam pencarian informasi, layanan
peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku, jurnal atau sumber
informasi dalam bentuk cetak lainnya, sehingga hal ini juga berpengaruh
pada tingginya beban kerja seorang pustakawan. Coba bisa anda bayangkan
jika semua student Harvard of University yang memiliki
koleksi tidak kurang 15 juta buku dan 90 jaringan perpustakaan
bergantung pada pustakawan maka entah apa jadinya tingkat kesibukan
pustakawan disana. Kondisi dimana terlalu banyak hal yang harus
dilakukan oleh pustakawan atau pekerja perpustakaan dan tidak cukup waktu untuk mengerjakannya adalah bibit-bibit timbulnya stres. Penyebab stres sendiri dapat didefinisikan ke dalam beberapa kelompok yaitu : - Penyebab organisasional
- Kurangnya
otonomi dan kreativitas, harapan, tenggat waktu dan kuota yang tidak
logis, relokasi pekerjaan untuk pustakawan, kurangnya pelatihan bagi
pustakawan, karier yang melelahkan, hubungan dengan pimpinan kurang
harmonis, dituntut selalu mengikuti perkembangan iptek yang up to date,
bertambahnya tanggungjawab tanpa pertambahan kompensasi dan selalu
menjadi oknum yang dikorbankan jika kinerja perpustakaan buruk
- Penyebab individu
- Pertentangan
antara karier dan tanggungjawab keluarga, ketidakpastian ekonomi,
kurangnya penghargaan atau apresiasi terhadap profesi pustakawan,
kurangnya pengakuan kerja di bidang kepustakawanan, kejenuhan,
ketidakpuasan kerja, kebosanan, konflik dengan rekan kerja (sesama
pustakawan, pekerja perpustakaan, pimpinan)
- Penyebab lingkungan
- Buruknya
iklim lingkungan kerja, Diskrimasi ras dalam pekerjaan, pelecehan
seksual yang dilakukan rekan kerja, pimpinan atau user perpustakaan,
kekerasan di tempat kerja, kemacetan saat akan berangkat atau pulang
kerja
Upaya Penanggulangan
Hal
lainnya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghindari stres
bagi pustakawan sebagai individu adalah dengan mengikuti saran-saran
berikut ini.: - Pantaulah
perilaku pribadi sendiri, buat catatan tentang perilaku itu, dan tentu
saja, lanjutkan dengan mengubah perilaku tersebut (self-monitoring).
- Sesuaikan
program aktivitas anda dengan jadwal yang cocok dengan kebiasaan anda
(tailoring). Misalnya, bila anda tidak mampu bangun pagi, hindari
melakukan aktivitas pagi hari.
- Berikan
insentif, penghargaan, rewards, atau reinforcement apabila anda telah
selesai melakukan suatu aktivitas atau program sesuai dengan rencana
anda secara sukses. Insentif ini dapat berupa barang atau uang.
- Sama
halnya seperti insentif berupa materi; senyum manis, pujian, atau
ucapan sayang (social reinforcement/social support) dari orang lain
ketika anda telah melakukan sesuatu dengan berhasil pun dapat menjadi
insentif yang kuat dan bermanfaat.
- Buatlah
kontrak pribadi (self-contracting) untuk melakukan hal-hal yang selama
ini telah tertunda atau terabaikan. Misalnya, niat untuk bangun pagi,
datang tidak terlambat, berdandan lebih cepat, dan lain-lain.
- Kalau
perlu, buatlah kontrak (perjanjian) dengan orang-orang yang penting
secara pribadi (significant others) seperti suami, istri, teman, dan
lain-lain. Janji semacam ini akan memperkuat kemauan anda untuk
mengubah apa yang ingin anda ubah.
- Ubahlah
sesuatu secara bertahap, misalnya dari yang paling sederhana atau mudah
ke yang paling kompleks atau sukar (shaping).
- Usahakan
untuk mempunyai sesuatu atau seseorang yang dapat memperingati anda
bahwa sesuatu perlu dilakukan atau sudah dilakukan.
- Jadilah
anggota suatu kelompok (self-help groups) yang terdiri dari orang-orang
dengan nasib atau kesuliatan yang sama (similar health and lifestyle problems). Ini dapat memberikan dukungan emosional bagi penderita stres.
Catatan Akhir Bagaimanapun
juga pustakawan mempunyai kemampuan terbatas maka harus ada upaya dari
pihak organisasi (Yayasan, Universitas, Perpustakaan), individu
(pustakawan sendiri) dan perbaikan lingkungan agar dapat mengurangi
tekanan-tekanan yang dapat timbul kepada seorang pekerja sehingga
sebagai profesional, pustakawan selalu terhindar dari gejala stres. Daftar pustaka
- Atkinson, jacqualine M.(a.b) F.X. Budiyanto, Mengatasi Stres di tempat kerja, Jakarta : Binarupa Aksara, 1997
- Mann, Thomas, Survey of Library User Studies, http://www.guild2910.org/google.htm, akses 5 Maret 2008
- National Safety Council, manajemen Stres, Jakarta : EGC, 2003
- Stres di Tempat Kerja, (http://www.geocities.com/dokterchandra/artikel_penanggulanganstress.html), akses 3 Maret 2008
* Artikel ini pernah dipublikasikan di jurnal Perpustakaan Universitas Surabaya, Vol.2 / 2008 ** Staf Perpustakaan Universitas Surabaya
*** Pustakawan Universitas Surabaya
|