|
Pemindahan Kiblat : Tamparan buat Yahudi
Oleh :
Oky Widyanarko *)
Sesungguhnya Yahudi banyak mencemooh
Rasulullah, baik ketika beliau hidup maupun sampai hari ini. Isu yang
banyak disebarkan adalah Muhammad sesungguhnya hanya nabi palsu yang
menjiplak Taurat dan agama yang dibawanya adalah Yahudi juga dengan
mengatakan bahwa kiblat muslim sebenarnya adalah ke Yerusalem dan bukan
di kota Makkah. Tetapi sesungguhnya tiap-tiap umat mempunyai syariat
yang berbeda demikianlah Allah berfirman :
وَأَنزَل´نَا
.ِلَي´كَ ال´كِتَابَ بِال´حَق´ِ ...ُصَد´ِقاً ل´ِ...َا بَي´نَ يَدَي´هِ ...ِنَ
ال´كِتَابِ وَ...ُهَي´...ِناً عَلَي´هِ فَاح´كُ... بَي´نَهُ... بِ...َا أَنزَلَ
الل´هُ وَلاَ تَت´َبِع´ أَه´وَاءهُ...´ عَ...´َا جَاءكَ ...ِنَ ال´حَق´ِ لِكُل´ٍ
جَعَل´نَا ...ِنكُ...´ شِر´عَةً وَ...ِن´هَاجاً وَلَو´ شَاء الل´هُ لَجَعَلَكُ...´
أُ...´َةً وَاحِدَةً وَلَـكِن ل´ِيَب´لُوَكُ...´ فِي ...َا آتَاكُ...
فَاس´تَبِقُوا الخَي´رَاتِ .ِلَى الله ...َر´جِعُكُ...´ جَ...ِيعاً
فَيُنَب´ِئُكُ... بِ...َا كُنتُ...´ فِيهِ تَخ´تَلِفُونَ [5:48]
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran,
membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan
sebelumnya) dan batu ujian421 terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka
putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan
kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu422, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat
(saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya
kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa
yang telah kamu perselisihkan itu,
Dengan
perbedaan syariat itu maka muslim tidak sama dengan Yahudi maupun
Nasrani sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Adil bagaimana ketika
Yerusalem dijadikan Kiblat bagi umat Yahudi maka Muslimpun diberi
Kiblat yang baru seperti firmannya :
وَلِكُل´ٍ وِج´هَةٌ هُوَ
...ُوَل´ِيهَا فَاس´تَبِقُوا´ ال´خَي´رَاتِ أَي´نَ ...َا تَكُونُوا´ يَأ´تِ
بِكُ...ُ الل´هُ جَ...ِيعاً .ِن´َ الل´هَ عَلَى كُل´ِ شَي´ءٍ قَدِيرٌ
[2:148]
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap
kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana
saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari
kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Dan
semua orang akan tahu kiblat muslim sebenarnya bukan ke Yerusalem
tetapi ke Masjidil Haram di Kota Makkah , hal ini mematahkan anggapan
orang-orang Yahudi bahwa Yerusalemlah atau Al-Quds adalah satu-satunya
kiblat yang ditetapkan oleh Allah.
قَد´ نَرَى تَقَل´ُبَ
وَج´هِكَ فِي الس´َ...َاء فَلَنُوَل´ِيَن´َكَ قِب´لَةً تَر´ضَاهَا فَوَل´ِ
وَج´هَكَ شَط´رَ ال´...َس´جِدِ ال´حَرَا...ِ وَحَي´ثُ ...َا كُنتُ...´ فَوَل´ُوا´
وُجُوِهَكُ...´ شَط´رَهُ وَ.ِن´َ ال´َذِينَ أُو´تُوا´ ال´كِتَابَ
لَيَع´لَ...ُونَ أَن´َهُ ال´حَق´ُ ...ِن ر´َب´ِهِ...´ وَ...َا الل´هُ بِغَافِلٍ
عَ...´َا يَع´...َلُونَ [2:144] Sungguh
Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit96, maka sungguh Kami
akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke
arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu
ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang
diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling
ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali
tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Yahudi
sebenarnya tahu kiblat muslim memang dari Tuhannya tetapi memang karena
kebusukan hatinya mereka tidak mau menerima kebenaran tersebut. Tetapi
begitulah itu merupakan tamparan dari yang Maha Kuasa buat mereka bahwa
ada umat yang berbeda dan umat itu adalah pilihan Tuhan sendiri seperti
dalam firmannya,
كُنتُ...´ خَي´رَ أُ...´َةٍ أُخ´رِجَت´ لِلن´َاسِ
تَأ´...ُرُونَ بِال´...َع´رُوفِ وَتَن´هَو´نَ عَنِ ال´...ُنكَرِ وَتُؤ´...ِنُونَ
بِالل´هِ وَلَو´ آ...َنَ أَه´لُ ال´كِتَابِ لَكَانَ خَي´راً ل´َهُ...
...´ِن´هُ...ُ ال´...ُؤ´...ِنُونَ وَأَك´ثَرُهُ...ُ ال´فَاسِقُونَ [3:110]
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi
mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang yang fasik.
*) Oky Widyanarko, Pustakawan Universitas Surabaya
|